Pidie Jaya | InfoAcehNews.net – Empat puluh tujuh hari sudah banjir bandang menyapu Kabupaten Pidie Jaya, daerah yang dikenal dengan julukan Negeri Japakeh. Lumpur mulai mengering, jalan dan sekolah perlahan kembali digunakan, namun bagi sebagian warga, bencana itu seolah belum pernah pergi.
Di Desa Meunasah Bie, Kecamatan Meurah Dua, jeritan itu masih terdengar lirih dari balik tenda darurat yang berdiri seadanya. Di sanalah Marni, seorang ibu rumah tangga, bersama keluarganya bertahan hidup sejak air bah menghancurkan rumah mereka pada akhir November tahun lalu.
Hingga Selasa, 13 Januari 2026, rumah milik keluarga Marni masih dipenuhi lumpur tebal. Dari halaman hingga ke dapur, material banjir belum tersentuh penanganan. Tak ada pilihan lain, Marni dan keluarganya terpaksa menetap di tenda darurat di depan rumah yang kini tak layak huni.
“Sejak hari pertama sampai sekarang, hidup kami sangat sengsara,” ucap Marni saat ditemui kontributor InfoAcehNews, dengan mata berkaca-kaca.
Setiap malam, Marni dan keluarganya tidur beralaskan tikar plastik. Tak ada kasur, tak ada kamar tidur, bahkan sumur pun tak bisa digunakan. Ketika hujan turun, mereka harus bersiap berpindah karena air kerap masuk ke dalam tenda. Sementara di siang hari, panas menyengat terasa begitu menyiksa karena tenda dikelilingi plastik.
“Sudah satu bulan lebih kami tinggal di tenda. Siang hari kepanasan, kalau hujan kedinginan. Tidak ada dapur, tidak ada kamar tidur. Kami sangat sedih, Pak,” tuturnya lirih.
Marni mengaku hanya bisa berharap uluran tangan pemerintah. Bukan sekadar bantuan logistik, namun penanganan nyata agar rumahnya dapat kembali dihuni.
“Kami berharap pemerintah membantu agar kami bisa kembali ke rumah seperti semula,” harapnya.
Pemerintah daerah memang telah melakukan berbagai upaya pemulihan. Sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, jalan, dan musala telah dibersihkan dari material banjir. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan, masih banyak rumah warga yang luput dari sentuhan penanganan, terutama milik warga kecil yang tak punya daya.
Bagi Marni dan warga senasib lainnya, pemulihan bukan soal statistik atau laporan progres. Pemulihan adalah bisa tidur layak tanpa rasa takut kehujanan, memasak di dapur sendiri, dan kembali menjalani hidup dengan martabat.
Empat puluh tujuh hari telah berlalu. Namun bagi Marni, banjir itu masih tinggal, mengendap di lumpur rumahnya, dan mengeras di luka batin yang belum sembuh. (Hery)




















