GAYO LUES, InfoAcehNews.net | Di tanah yang dijuluki negeri seribu bukit, dentuman kaki kuda dan sorak penonton pernah menjadi warna khas setiap perayaan daerah. Kini, semangat itu berusaha dihidupkan kembali. Dinas Pariwisata Gayo Lues tengah mewacanakan pelaksanaan pacuan kuda lokal, sebagai bentuk pelestarian budaya sekaligus penggerak wisata di daerah berhawa sejuk ini.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Gayo Lues, Mursyidi, SE menyebutkan, kegiatan tersebut dirancang untuk menghidupkan kembali tradisi masyarakat Gayo Lues tempo dulu, di mana pacuan kuda menjadi hiburan rakyat yang menyatukan warga dari berbagai pelosok desa.
“Kita ingin mengembalikan suasana seperti dulu, di mana masyarakat dari berbagai desa hadir untuk menyaksikan kuda dari desanya bertanding. Ibaratnya seperti tarkam bola, tapi ini versi kuda,” ujar Mursyidi dengan semangat.
Pacuan kuda lokal ini, nantinya akan melibatkan kuda-kuda milik warga dari berbagai desa di seluruh wilayah Gayo Lues. Setiap desa bisa menurunkan kuda terbaiknya untuk mewakili nama desanya, sehingga tercipta rasa kebanggaan dan persaingan yang sehat di antara warga.
Antusiasme masyarakat terhadap rencana ini pun cukup tinggi. Banyak warga yang menyambut baik gagasan menghidupkan kembali pacuan kuda lokal, karena menurut mereka, kegiatan tersebut bukan sekadar adu cepat, melainkan simbol kebersamaan dan kemeriahan desa.
“Dulu masyarakat sangat antusias memberikan dukungan. Mereka datang berbondong-bondong menyaksikan kuda dari desanya bertanding, berteriak memberi semangat, dan merayakan kemenangan bersama. Sekarang, sebagian masyarakat merasa pacuan kuda yang digelar saat ini tidak lagi mewakili desa, melainkan sudah menjadi ajang olahraga bagi para pencinta kuda semata,” ungkap Mursyidi menirukan ungkapan warga yang berharap suasana lama bisa dihidupkan kembali.
Plt Kepala Dinas Pariwisata Gayo Lues ini juga menilai, dengan menggelar pacuan kuda lokal, semangat budaya lama itu dapat dikembalikan. Bahkan, ia ingin agar kegiatan ini digelar bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kabupaten Gayo Lues, sehingga menjadi ajang tahunan yang mampu menarik wisatawan dan menggerakkan ekonomi lokal, terutama UKM.
“Kita berharap, kegiatan ini bisa menjadi ajang rutin yang memperkuat identitas budaya lokal, sekaligus mendukung sektor pariwisata. Dengan cara seperti ini, masyarakat bisa ikut merasakan manfaat ekonomi dari kegiatan budaya,” katanya.
Lebih lanjut, Mursyidi menjelaskan, bahwa wacana pacuan kuda lokal ini akan dikoordinasikan bersama Bupati Gayo Lues, agar perencanaannya matang dan sejalan dengan visi pengembangan pariwisata daerah. Dinas Pariwisata juga berencana melibatkan masyarakat untuk mendengar pandangan dan aspirasi mereka, sehingga kegiatan ini benar-benar menjadi milik bersama.
“Kita akan berkoordinasi dengan Bupati, sekaligus mendengar pandangan masyarakat. Jika mereka mendukung, maka kegiatan ini akan menjadi ikon budaya Gayo Lues yang hidup kembali,” tutur Mursyidi.
Mursyidi menambahkan, jika pimpinan daerah nantinya dapat membuat regulasi yang memberikan kemudahan bagi desa untuk membeli kuda, pihaknya sangat mendukung hal itu. Dengan dukungan kebijakan seperti ini, setiap desa akan memiliki peluang yang sama, untuk berpartisipasi dalam pacuan kuda lokal.
“Kalau pimpinan daerah bisa membuat regulasi agar desa dimudahkan dalam membeli kuda lokal, tentu kami sangat mendukung. Fasilitas lapangan pacuan kuda kita juga sudah sangat memadai,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan, rencananya pada perayaan HUT Kabupaten Gayo Lues, hanya kuda lokal yang akan dilombakan, tanpa melibatkan kabupaten tetangga. Sedangkan pada peringatan HUT RI, baru akan diundang peserta dari daerah lain sebagaimana yang telah dilaksanakan selama ini.
“Kalau untuk HUT Gayo Lues, ya kita fokus lombakan kuda lokal saja. Tapi kalau HUT RI, baru kita undang kabupaten tetangga seperti yang sudah berjalan selama ini,” pungkas Mursyidi menegaskan.
Jika rencana ini terwujud, maka lapangan pacuan kuda Stadion Seribu Bukit yang dulu menjadi saksi gemuruh pacuan kuda di masa lalu akan kembali menggema di Stadion Pacuan Kuda Buntul Nege. Suara derap kuda dan teriakan penonton, akan menandai kebangkitan budaya yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan generasi tua. Pacuan kuda lokal bukan sekadar perlombaan, tapi simbol kebersamaan, kebanggaan dan semangat masyarakat Gayo Lues dalam menjaga warisan leluhur di tengah zaman yang terus berubah. (Dosaino)




















