PIDIE JAYA | InfoAcehNews.net — Di tengah kemeriahan pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-37 tingkat Provinsi Aceh yang berlangsung megah dan penuh cahaya, sebuah pemandangan kontras justru mencuri perhatian, karena stand milik Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pidie Jaya tampak gelap gulita.
Sementara seluruh area venue utama dan deretan stand peserta lainnya, bercahaya terang menampilkan suasana meriah dan penuh warna, tetapi stand PMI justru dibiarkan tanpa penerangan sejak usai salat magrib hingga acara berakhir.
Ketua PMI Pidie Jaya, Irwan Ibrahim, atau yang akrab disapa Bang Socolatte, menyampaikan kekecewaannya atas insiden tersebut.
“Ya, cuma stand PMI dan stand Socolatte yang gelap, karena lampunya padam sejak habis magrib sampai jam 12 malam. Kami berharap, malam berikutnya panitia bisa menyalakan lampu seperti stand lainnya,” ujar Irwan dengan nada kecewa saat ditemui di lokasi acara, Sabtu malam (1/11/2025).

Kondisi tersebut juga dibenarkan oleh relawan senior PMI, Habibah, yang berjaga di stand bersama dua rekannya. Mereka terpaksa duduk dalam kegelapan, hanya mengandalkan cahaya yang memancar dari stand di sebelahnya.
“Lampu stand kami mati sejak sore. Kami tetap bertahan di dalam tenda gelap, karena tidak tahu harus mengadu ke siapa,” kata Habibah dengan raut wajah muram.
Ironisnya, pihak PLN saat dikonfirmasi justru menegaskan, bahwa masalah listrik di area MTQ bukan lagi menjadi tanggung jawab mereka.
“Mohon maaf, untuk stand acara MTQ sudah ada teknisi sendiri. Bukan tanggung jawab teknisi PLN,” tulis salah satu petugas PLN cabang setempat melalui pesan singkat kepada media ini.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak panitia pelaksana MTQ terkait padamnya penerangan di stand PMI tersebut. Padahal, PMI selama ini dikenal sebagai garda terdepan dalam pelayanan kemanusiaan dan kesehatan selama event besar berlangsung.
Kondisi miris itu memunculkan pertanyaan publik, mengapa lembaga kemanusiaan justru “gelap” di tengah pesta religius yang seharusnya menjunjung nilai-nilai kepedulian dan kebersamaan?
Jika tidak segera dievaluasi, insiden kecil ini bisa menjadi cerminan, lemahnya koordinasi teknis dan minimnya perhatian terhadap aspek kemanusiaan, dalam penyelenggaraan event sebesar MTQ tingkat Provinsi. (Herry)




















