Tulisan : dr Syafwan Azhari Sp.B (Ketua PABI Aceh)
Pencabutan status darurat bencana di Gayo Lues merupakan sinyal untuk beralih dari fase penyelamatan nyawa (life-saving) menuju fase pemulihan sistem (system recovery).
Peran masyarakat juga sangat penting dimasa transisi ini, karena kebijakan kesehatan ini tidak akan terwujud tanpa kolaborasi yang baik antara pemerintah dan masyarakat.
Tidak lupa pula para tenaga kesehatan, mereka juga bagian yang tidak terpisahkan dari sistem kesehatan ini, disaat mereka juga berhadapan langsung dengan bencana, tapi disisi sebaliknya juga mereka harus bisa melayani masyarakat dengan profesional.
Di masa transisi ini, pemerintah daerah harus memastikan bahwa kebijakan kesehatan tidak hanya kembali ke”titik nol”, melainkan bertransformasi menjadi sistem yang lebih tangguh terhadap ancaman masa depan dengan mengintegrasikan empat pilar layanan kesehatan.
1. Pilar Promotif: Menggerakkan Kesadaran Masyarakat
Masa transisi adalah waktu yang tepat untuk membangun kembali budaya hidup sehat di tengah keterbatasan. Dalam hal ini kita harus bisa mengembalikan dan bahkan menumbuhkan kesadaran seluruh elemen masyarakat antara lain:
- Literasi Kesehatan Pasca-Bencana: Edukasi masif mengenai PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) di lingkungan rumah yang sedang direkonstruksi atau hunian sementara untuk mencegah penyakit berbasis lingkungan.
- Kampanye Nutrisi Terpadu: Fokus pada pencegahan stunting yang berisiko meningkat pascabencana akibat terganggunya pola makan. Mengaktifkan kembali Posyandu sebagai pusat edukasi gizi. Sebelum bencana ini, kita pernah menjadi kabupaten dengan angka stunting yang tinggi, kita harus bisa mencegah hal ini terulang, dengan edukasi gizi yang masif.
- Resiliensi Komunitas: Melatih tokoh masyarakat dan relawan lokal sebagai “Agen Resiliensi Kesehatan” yang mampu memberikan edukasi dini mengenai tanda-tanda bahaya kesehatan di lingkungannya. Salah satu hal baru setelah bencana ini adalah banyaknya masyarakat yang menjadi relawan, bukan hanya tenaga kesehatan yang bahu membahu dalam membantu melewati bencana ini, tapi masyarakat awam juga ikut terlibat langsung dalam proses ini, momentum kerjasama sebagai relawan ini harus dimaksimalkan, jangan hanya terhenti saat tanggap darurat saja, tapi bisa berlangsung secara konsisten demi kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat gayo lues.
2. Pilar Preventif: Membentengi Masyarakat dari Ancaman Baru
Mencegah terjadinya”Bencana Kedua”berupa wabah penyakit menular. Banyak yang tidak menyadari masalah bencana non alam ini, kita lebih fokus kepada pemulihan infrastruktur tapi jarang terdengar konsep infrastruktur kesehatan yang tidak kalah penting dengan memperbaiki putusnya jalan antar desa.
Potensi kenaikan angka kesakitan penyakit akan tinggi, ini akan mengganggu pembangunan SDM gayo lues dimasa yang akan datang, bagaimana penyakit menular seperti TBC akan kembali meningkat, jika kita salah mengambil atau bahkan melupakan cara penjegahan yang efektif. Bukan kah pencegahan itu lebih baik dari pada pengobatan.
Beberapa hal yang penting dalam pencegahan ini antara lain:
- Imunisasi (Catch-up Immunization): Memastikan anak-anak yang melewatkan jadwal imunisasi rutin selama masa darurat mendapatkan haknya kembali untuk mencegah KLB (Kejadian Luar Biasa) seperti campak atau polio.
- Surveilans Penyakit Berbasis Lingkungan: Penguatan deteksi dini terhadap penyakit menular pascabencana (diare, leptospirosis, penyakit kulit, dan ISPA) melalui sistem pelaporan digital dari Puskesmas.
- Kesehatan Lingkungan dan Sanitasi: Percepatan perbaikan akses air bersih dan jamban keluarga di wilayah terdampak untuk memutus rantai penularan penyakit. Hal ini adalah salah satu nfrastruktur yang langsung berdampak kepada kesehatan, sumber air bersih serta pengolahan air bersih yang baik.
3. Pilar Kuratif: Normalisasi dan Efisiensi Layanan Pengobatan
Mengembalikan fungsi fasilitas kesehatan untuk melayani kasus-kasus rutin dan kronis. Promotif dan Preventif sangat penting, tapi akhirnya kuratif juga harus kita siapkan.
- Reaktivasi Fasilitas Kesehatan Primer (Puskesmas): Memastikan seluruh Puskesmas dan Pustu di Gayo Lues dapat melayani pengobatan dasar secara optimal, termasuk ketersediaan obat-obatan esensial.
- Manajemen Penyakit Tidak Menular (PTM): Menjamin keberlanjutan pengobatan bagi penderita penyakit kronis (Hipertensi, Diabetes, Jantung) yang mungkin terputus selama masa darurat.
- Integrasi Layanan melalui JKN: Mempermudah administrasi bagi warga terdampak yang kehilangan dokumen kependudukan agar tetap mendapatkan layanan medis gratis melalui skema BPJS.
4. Pilar Rehabilitatif: Pemulihan Fisik dan Mental
Mengembalikan fungsi sosial dan produktivitas masyarakat penyintas:
- Layanan Kesehatan Jiwa (Psychosocial Support): Program trauma healing yang berkelanjutan tidak hanya bagi warga, tetapi juga bagi tenaga kesehatan yang bertugas selama masa darurat (mencegah burnout).
- Rehabilitasi Fisik: Pendampingan bagi korban bencana yang mengalami cedera permanen atau disabilitas agar mendapatkan akses alat bantu dan terapi fisik guna kembali mandiri.
- Reintegrasi Sosial: Memastikan penyintas yang telah sembuh secara fisik dan mental dapat kembali ke komunitas dengan dukungan kesehatan yang memadai di tingkat desa.
5. Rekomendasi Strategis
Agar layanan di atas berjalan efektif, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues perlu mengambil langkah kebijakan berikut:
- Fleksibilitas Fiskal: Mengalokasikan dana transisi untuk perbaikan infrastruktur kesehatan mikro yang tidak tercover oleh dana bantuan pusat.
- Kemitraan Multisektoral: Memperkuat kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, BPBD, dan Pekerjaan Umum dalam satu komando data pemulihan.
- Digitalisasi Layanan: Menggunakan momentum transisi untuk mengimplementasikan Rekam Medis Elektronik agar data pasien tetap aman jika terjadi bencana di masa depan. Bukan hanya rekam medis di RS tapi integrasi dengan puskesmas, sehingga layanan kesehatan yang lebih komprehensif
- Penguatan SDM Lokal: Memberikan pelatihan mitigasi bencana bagi tenaga kesehatan lokal sebagai bagian dari persiapan menghadapi risiko bencana di masa depan (Build Back Better). meurut penulis, ini adalah hal kecil yang sangat krusial, kita selama ini abai tentang mitigasi bencana, kita gagap dalam manajemen bencana, kedepan pemerintah wajib menyiapkan msyarakat dalam menghadapi bencana ini, dan tentu pemerintah juga harus bisa memitigasi bencana yang terkoordinasi dengan sistem pembangunan Gayo Lues kedepan.
Penutup
Pencabutan status darurat di Gayo Lues bukanlah tanda bahwa tugas kita telah usai. Sebaliknya, ini adalah bunyi ‘peluit start’ bagi kita untuk bekerja lebih keras di masa transisi. Kita tidak ingin sekadar kembali ke kondisi sebelum bencana—kita ingin membangun kembali Gayo Lues yang lebih kuat, lebih sehat, dan lebih tangguh.
Kesehatan masyarakat adalah fondasi dari seluruh pemulihan ekonomi dan sosial kita. Kita tidak boleh hanya menunggu pasien datang ke rumah sakit (kuratif), tapi kita harus menjemput bola ke desa-desa untuk memastikan mereka tetap sehat (promotif-preventif), dan kita harus merangkul mereka yang terluka agar bisa kembali beraktivitas (rehabilitatif).
Masa transisi ini adalah jembatan. Di satu sisi ada trauma masa lalu, dan di sisi lain ada harapan masa depan. Tugas kita adalah memastikan jembatan ini kokoh melalui kebijakan yang tepat sasaran, anggaran yang efektif, dan pelayanan yang tulus.
Mari kita buktikan bahwa dari bumi Seribu Bukit ini, kita bisa menunjukkan pada Indonesia bagaimana sebuah daerah bangkit dari bencana dengan sistem kesehatan yang lebih hebat dari sebelumnya.
Terima kasih. Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”




















