Gayo Lues | InfoAcehNews.net – Sudah berbulan-bulan warga Kampung Agusen Kecamatan Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues, Aceh, pasca bencana banjir bandang melanda desa tersebut, harus bertahan hidup dalam kegelapan. Lampu listrik yang selama ini menjadi satu-satunya penerang kampung padam, dan hingga kini belum kembali menyala.
Gelap bukan sekadar soal cahaya. Bagi warga Agusen, padamnya listrik berarti terhentinya denyut kehidupan sehari-hari. Aktivitas rumah tangga lumpuh saat malam tiba. Anak-anak kesulitan belajar, sementara para orang tua diliputi kecemasan akan keselamatan keluarga mereka.
“Kalau malam gelap sekali. Anak-anak mau belajar susah,” tutur Kia, salah satu warga Desa Agusen dengan suara lirih, Minggu, 25 Januari 2026.
Kondisi kampung yang minim penerangan, membuat warga was-was. Terlebih Desa tersebut baru saja mengalami bencana Banjir Bandang, yang membuat rumah warga hanyut dan terendam, serta kondisi jalan kampung yang masih belum normal. Alhasil, tak jarang warga harus menunda aktivitas penting karena keterbatasan cahaya.
Lebih jauh, dampak padamnya listrik juga terasa pada sektor pendidikan dan ekonomi. Para santri dan pelajar kesulitan mengulang pelajaran di malam hari. Warga yang menggantungkan hidup dari usaha kecil pun, terpaksa berhenti beraktivitas saat matahari terbenam.
“Pesantren dan anak sekolah butuh penerangan. Kami ini tidak bergaji, usaha juga kecil-kecilan. Kalau gelap begini, semua terhenti,” ungkap Kia.
Ironisnya, sebagian warga mengaku tidak mampu membeli bahan bakar minyak atau bensin untuk genset. Jangankan genset, untuk kebutuhan sehari-hari saja mereka harus berhemat. Harapan satu-satunya, kini tertuju pada uluran tangan pemerintah dan para pihak yang peduli.
“Mau bolak balik ke pengungsian, kami sudah tidak mampu membeli BBM untuk kendaraan kami,” tuturnya.
Dengan penuh kerendahan hati, warga Agusen menyampaikan permohonan bantuan, agar listrik kembali dihidupkan. Bagi mereka, lampu bukan hanya penerang tetapi simbol harapan, agar anak-anak mereka bisa belajar dengan baik, aktivitas berjalan normal, dan kehidupan kembali berdenyut.
“Kami mohon bantuan saudara-saudara kami. Kami hanya ingin kembali hidup dengan lampu menyala,” pintanya.
Kini, jeritan dari kampung kecil di pedalaman Gayo Lues itu menunggu untuk didengar. Sebab bagi warga Agusen, terang bukan kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup pasca bencana.
Terkait kondisi tersebut, Manager PLN Gayo Lues, Isnan Ananda, menyampaikan, saat ini tim perbaikan masih bekerja di daerah Kecamatan Pining dan Pantan Cuaca. Untuk Desa Agusen pihaknya menjadwalkan setelah selesai melakukan perbaikan di dua Kecamatan tersebut.
“Insya Allah untuk Desa Agusen tidak ada kendala, tetapi tim perbaikan saat ini masih bekerja di daerah Pining dan Pantan Cuaca. Untuk ke lokasi Agusen, kami jadwalkan setelah selesai di lokasi tersebut,” sampai Isnan Ananda. (Dosaino)




















