PIDIE JAYA | InfoAcehNews.net – Bencana banjir hidrometeorologi yang melanda Pidie Jaya pada akhir 2025 bukan hanya meninggalkan kerusakan rumah, infrastruktur, dan lahan pertanian. Dampaknya juga mengubah wajah Sungai Krueng Meureudu secara drastis hingga memunculkan pertanyaan besar tentang keseriusan penanganan daerah aliran sungai (DAS).
Pantauan Kontributor InfoAcehNews, Sabtu (27/6/2026), menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan di kawasan Jembatan Simpang Tiga, Kecamatan Meureudu. Sungai yang dahulu dikenal dalam dan menjadi jalur utama aliran air, kini mengalami pendangkalan yang sangat parah.
Bahkan, bagian tengah sungai telah berubah fungsi menjadi lapangan sepak bola darurat. Setiap sore, lokasi tersebut dimanfaatkan para santri Dayah Ummul Aiman untuk bermain bola.

Pemandangan ini mungkin terlihat unik, tetapi sesungguhnya menjadi simbol nyata rusaknya ekosistem sungai akibat sedimentasi pascabanjir.
Salah seorang warga Simpang Tiga, Mustafa (46), mengaku tidak menyangka perubahan yang terjadi begitu drastis.
“Dulu di situ dalamnya sekitar delapan meter, bahkan lebih. Sekarang sudah dangkal seperti ini setelah banjir,” ujarnya sambil menunjuk lokasi yang kini dijadikan lapangan sepak bola.
Menurut Mustafa, pendangkalan Krueng Meureudu bukan sekadar persoalan perubahan bentang alam. Ia menilai kondisi tersebut menjadi ancaman serius bagi masyarakat yang bermukim di sepanjang DAS.
“Jangan bermimpi kita bebas dari banjir kalau sungai ini tidak dinormalisasi. Sedikit saja hujan deras, air langsung meluap masuk ke kampung,” katanya.
Fenomena ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah. Pendangkalan sungai akibat sedimentasi yang tidak segera ditangani akan terus mengurangi kapasitas tampung aliran air. Akibatnya, banjir berpotensi berulang setiap musim hujan dengan dampak yang semakin luas.
Normalisasi sungai, pengerukan sedimentasi, penguatan tanggul, hingga rehabilitasi kawasan hulu menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa lagi ditunda. Penanganan banjir tidak cukup hanya dilakukan saat bencana datang, tetapi harus diwujudkan melalui langkah mitigasi yang berkelanjutan.
Jika sungai yang dahulu memiliki kedalaman hingga delapan meter kini telah berubah menjadi lapangan sepak bola, maka yang hilang bukan sekadar kedalaman sungai, melainkan juga fungsi vitalnya sebagai pengendali banjir.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Krueng Meureudu bisa dipulihkan, melainkan seberapa cepat pemerintah bertindak sebelum banjir berikutnya kembali datang membawa kerugian yang lebih besar. (Herry)




















