Gayo Lues | InfoAcehNews.net – Pencabutan status darurat bencana di Kabupaten Gayo Lues menjadi penanda penting dimulainya fase baru penanganan pascabencana. Jika sebelumnya fokus utama adalah penyelamatan nyawa, kini tantangan bergeser pada pemulihan sistem, khususnya sistem kesehatan masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Hal tersebut disampaikan Ketua Perhimpunan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Aceh, dr Syafwan Azhari Sp.B, dalam gagasannya bertajuk “Membangun Kembali Gayo Lues: Strategi Transformasi Kesehatan Holistik di Masa Transisi Pascabencana”.
Menurut dr Syafwan, masa transisi ini tidak boleh dimaknai sebagai sekadar kembali ke kondisi sebelum bencana. Pemerintah daerah justru didorong untuk melakukan lompatan besar dengan membangun sistem kesehatan yang lebih kuat, adaptif, dan siap menghadapi ancaman bencana di masa depan.
“Kebijakan kesehatan pascabencana tidak cukup hanya memulihkan. Kita harus bertransformasi. Membangun sistem yang lebih tangguh dengan melibatkan pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat secara kolaboratif,” ujar dr Syafwan.
Empat Pilar Kesehatan Terintegrasi
Dalam paparannya, dr Syafwan menekankan pentingnya integrasi empat pilar layanan kesehatan, yakni promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Pada pilar promotif, masa transisi dinilai sebagai momentum emas membangun kembali budaya hidup sehat. Edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) perlu digencarkan, terutama di hunian sementara dan rumah yang sedang direkonstruksi. Selain itu, kampanye nutrisi terpadu menjadi kunci untuk mencegah lonjakan stunting yang berisiko meningkat pascabencana.
“Gayo Lues pernah mencatat angka stunting yang tinggi. Kita tidak boleh membiarkan sejarah itu terulang,” tegasnya.
Ia juga menyoroti besarnya potensi relawan lokal pascabencana. Menurutnya, masyarakat yang telah terbiasa menjadi relawan saat tanggap darurat perlu diberdayakan secara berkelanjutan sebagai agen resiliensi kesehatan di tingkat desa.
Cegah “Bencana Kedua” Wabah Penyakit
Pada pilar preventif, dr Syafwan mengingatkan ancaman serius yang kerap luput dari perhatian, yakni bencana non-alam berupa wabah penyakit menular.
“Pemulihan infrastruktur fisik memang penting, tetapi infrastruktur kesehatan sama krusialnya. Jangan sampai kita menghadapi bencana kedua karena lalai melakukan pencegahan,” katanya.
Ia menekankan pentingnya imunisasi kejar (catch-up immunization) bagi anak-anak yang tertinggal jadwal selama masa darurat, penguatan surveilans penyakit berbasis lingkungan, serta percepatan penyediaan air bersih dan sanitasi layak.
Normalisasi Layanan Hingga Pemulihan Mental
Sementara pada pilar kuratif, normalisasi layanan kesehatan dasar menjadi keharusan. Seluruh Puskesmas dan Pustu di Gayo Lues harus kembali berfungsi optimal, termasuk menjamin ketersediaan obat esensial dan keberlanjutan pengobatan penyakit tidak menular seperti diabetes dan hipertensi.
Ia juga mendorong kemudahan akses layanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) bagi warga terdampak yang kehilangan dokumen kependudukan.
Adapun pilar rehabilitatif diarahkan pada pemulihan menyeluruh penyintas bencana, baik fisik maupun mental. Program trauma healing berkelanjutan dinilai penting, tidak hanya bagi masyarakat, tetapi juga tenaga kesehatan yang berisiko mengalami kelelahan mental (burnout).
Rekomendasi Kebijakan Daerah
Untuk memastikan seluruh pilar berjalan efektif, dr Syafwan merekomendasikan sejumlah langkah strategis, mulai dari fleksibilitas fiskal daerah, penguatan kemitraan lintas sektor, digitalisasi layanan kesehatan melalui rekam medis elektronik terintegrasi, hingga peningkatan kapasitas SDM kesehatan lokal dalam mitigasi bencana.
“Mitigasi bencana selama ini kerap kita abaikan. Padahal ini krusial. Pemerintah wajib menyiapkan masyarakat agar tidak selalu gagap saat bencana kembali datang,” ujarnya.
Membangun Gayo Lues yang Lebih Tangguh
Menutup pemikirannya, dr Syafwan menegaskan bahwa pencabutan status darurat bukan akhir dari perjuangan, melainkan awal kerja keras yang sesungguhnya.
“Kesehatan masyarakat adalah fondasi pemulihan ekonomi dan sosial. Kita tidak boleh hanya menunggu pasien datang ke rumah sakit, tapi harus menjemput bola ke desa-desa,” katanya.
Ia optimistis, dari kawasan Bumi Seribu Bukit, Gayo Lues dapat menjadi contoh nasional bagaimana sebuah daerah bangkit dari bencana dengan sistem kesehatan yang lebih kuat dan berdaya tahan.
“Ini adalah jembatan antara trauma masa lalu dan harapan masa depan. Tugas kita memastikan jembatan itu kokoh,” pungkasnya. (Dosaino)




















