Kegagalan kafilah Gayo Lues menembus sepuluh besar pada Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-37 tingkat Provinsi Aceh di Pidie Jaya, tentu bukan sekadar statistik lomba. Ia adalah tamparan keras bagi sebuah daerah yang selama ini bangga menyebut dirinya “Negeri Seribu Hafizd”.
Ironisnya, di saat jumlah pesantren dan dayah tumbuh bak jamur di musim hujan, prestasi justru merosot tajam. Ratusan santri belajar setiap hari, tapi hasilnya di panggung provinsi nihil prestasi.
Berarti, kita patut bertanya! Ada apa sebenarnya dengan sistem pembinaan Qur’ani di Gayo Lues?
Apakah pesantren hanya sibuk dengan rutinitas ritual tanpa arah pembinaan yang terukur? Ataukah pemerintah daerah gagal menjembatani potensi besar para santri menjadi kafilah yang siap bersaing di level provinsi?
MTQ bukan sekadar lomba melagukan ayat suci dengan suara merdu. Ia seharusnya menjadi tolok ukur dari keberhasilan pendidikan Al-Qur’an yang hidup di tengah masyarakat. Ketika pesantren bertebaran tapi prestasi justru meredup, maka ada yang salah dalam manajemen spiritual dan akademik kita.
Masalah klasik pun kembali muncul, pembinaan yang instan, seleksi mendadak, dan minimnya dukungan pemerintah daerah. Para pembina qori-qoriah dibiarkan bekerja tanpa sistem yang jelas, sementara anggaran keagamaan kerap habis di kegiatan seremonial.
Padahal, pembinaan qori sejati butuh waktu, konsistensi, dan apresiasi yang manusiawi.
“Banyak pesantren yang bagus, tapi tidak punya jalur kompetisi dan pembinaan formal. Akhirnya bakat-bakat santri menguap tanpa terarah,” ujar salah seorang tokoh agama di Blangkejeren.
Kegagalan Gayo Lues menembus 10 besar seharusnya menjadi lonceng peringatan, bahwa kuantitas lembaga keagamaan tak berarti apa-apa tanpa kualitas pembinaan yang nyata.
Pesantren boleh tumbuh di setiap sudut kampung, tapi jika tak ada sistem pelatihan terpadu dan komitmen pemerintah untuk mendampingi, maka MTQ berikutnya hanya akan mengulang luka yang sama.
Kini, Gayo Lues perlu berhenti berpuas diri dengan simbol-simbol religius. Saatnya kembali ke substansi, membina, mendidik, dan menumbuhkan generasi Qur’ani yang benar-benar siap tampil, bukan hanya di panggung MTQ, tapi di kehidupan nyata.




















