GAYO LUES, InfoAcehNews.net | Di tengah kemajuan teknologi dan derasnya arus informasi, dunia pendidikan Indonesia justru tengah menghadapi krisis yang tak kasat mata, lunturnya penghargaan terhadap guru.
Sosok yang dulu diagungkan kini sering menjadi sasaran kesalahpahaman. Di ruang-ruang kelas, para pendidik mulai ragu melangkah, bukan karena kehilangan semangat, tapi karena takut disalahartikan.
Dulu, ketika seorang anak ditegur karena melanggar aturan, orang tua datang dengan ucapan terima kasih. Kini, sebagian justru datang dengan amarah. Perubahan sikap ini perlahan menggerus makna pendidikan yang sejati. Padahal, seperti pesan Ki Hadjar Dewantara, “Guru adalah penuntun, bukan penghukum, tapi kadang, untuk menuntun, perlu langkah tegas agar anak tidak tersesat.” Namun kini, teguran yang lahir dari kasih sayang, dianggap sebagai kekerasan, dan disiplin disalahpahami sebagai bentuk ketidaksabaran.
Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Gayo Lues, Salid, S.Pd, M.M, menilai fenomena ini kian mengkhawatirkan. Banyak guru yang kini ragu menegur siswa karena takut dilaporkan atau diviralkan di media sosial.
“Guru bukan musuh. Guru adalah mitra orang tua dalam membentuk karakter anak. Kalau guru tidak lagi dipercaya, bagaimana kita bisa membangun generasi yang berdisiplin dan bertanggung jawab?” ujarnya.
Ia juga menegaskan, bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sekolah hanya melanjutkan nilai-nilai yang seharusnya sudah terbentuk di rumah.
“Kalau anak dibiarkan di rumah, lalu ditegur di sekolah tapi orang tua marah, anak akan bingung, nilai mana yang benar. Di situlah rusaknya fondasi karakter bangsa,” tambahnya.
Krisis ini tak lepas dari peran media sosial yang sering kali menjadi cermin buram dunia pendidikan. Potongan video guru menegur siswa diunggah tanpa konteks, lalu menjadi bahan hujatan publik. Dari satu klik dan komentar, reputasi seorang guru bisa runtuh dalam sekejap. Tak sedikit guru akhirnya memilih diam, walau di hatinya tahu bahwa ketegasan adalah bagian dari cinta dalam mendidik.
“Kami takut disalahartikan. Padahal niat kami hanya ingin anak-anak tumbuh disiplin. Tapi jika setiap teguran dianggap kekerasan, kami kehilangan peran,” ungkap seorang guru SMP di Blangkejeren dengan suara berat.
Di tengah tekanan seperti itu, wibawa guru perlahan memudar. Masyarakat menuntut guru untuk mencetak generasi cerdas, tapi dalam waktu bersamaan membatasi ruang mereka untuk mendidik. Guru sejatinya tak butuh pujian, mereka hanya butuh kepercayaan. Tanpa dukungan orang tua, sekolah hanya akan menjadi tempat mengajar, bukan tempat mendidik manusia. Seperti kata Ki Hadjar Dewantara, “Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.” Guru di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, dan di belakang memberi dorongan. Tapi semua itu tak akan berarti tanpa kepercayaan masyarakat.
Guru sejati tak menuntut balas jasa. Mereka hanya ingin melihat muridnya berhasil dan berakhlak mulia. Namun ketika setiap tindakan mereka disalahpahami, semangat itu perlahan padam. Sudah saatnya kita berhenti mencari kesalahan guru, dan mulai mencari cara untuk bersama memperkuat dunia pendidikan. Karena tanpa guru, tidak akan ada dokter, polisi, pemimpin, atau bahkan wartawan yang menulis berita ini.
Mari kita kembalikan martabat guru, pahlawan tanpa tanda jasa yang kini mulai terlupakan. Biarkan mereka kembali mendidik dengan hati tanpa bayang-bayang ketakutan. Karena dari tangan merekalah lahir generasi masa depan bangsa, anak-anak yang tak hanya cerdas, tapi juga berkarakter, beretika, dan mencintai nilai-nilai kemanusiaan.
“Guru bukan hanya pengajar, tapi pembimbing kehidupan. Dari tangan merekalah lahir generasi masa depan bangsa.”
Penulis : Kamsah Penggalangan




















