PIDIE JAYA | InfoAcehNews.net — Di tengah genangan air yang belum surut, suara rintihan warga yang mulai kehabisan air bersih, serta malam–malam lembab yang membawa gigil ke tubuh para pengungsi, ada satu sosok yang nyaris setiap hari terlihat hilir–mudik di antara pemukiman yang terdampak banjir.
Ia bukan relawan, bukan pula petugas BPBD. Ia adalah seorang anggota DPRK Pidie Jaya, Asrijal Syahputra, atau yang akrab disapa warga sebagai Jal Beco.
Sejak hari kedua air mulai meninggi di Pidie Jaya, politisi muda dari Partai PAS ini memilih meninggalkan kenyamanan kantor dan rumahnya.
Ia menyusuri lorong-lorong desa yang tergenang untuk menyalurkan bantuan masa panik berupa mi instan, minyak makan, telur, dan kebutuhan mendesak lainnya. Bukan hanya membawa bingkisan, ia juga mengangkut satu mobil pikap berisi air isi ulang untuk dibagikan langsung kepada warga yang hampir seminggu krisis air bersih.
Yang membuatnya berbeda bukan hanya soal bantuan, tetapi cara ia menyalurkannya.
Dari pantauan kontributor InfoAcehNews.net, Jal Beco tak segan memikul sendiri galon air ke dapur umum, ke rumah-rumah lansia, hingga ke lorong-lorong sempit yang luput dari pantauan para petugas.
Embun keringat dan pakaian yang basah oleh genangan seperti menjadi rekam jejak bisu kesungguhannya.
“Alhamdulillah bang, sudah lima hari saya menyalurkan bantuan ala kadar ini bersama salah satu anggota saya. Insya Allah akan terus saya lakukan bila ada warga yang membutuhkan, terutama air minum,” ujarnya polos, tanpa menyebut sedikit pun tentang citra atau pencitraan.
Sementara itu, seorang warga Meunasah Bie, M. Yakub (34), tampak tak kuasa menyembunyikan haru ketika melihat wakil rakyatnya turun langsung membantu.
“Padahal puluhan wakil rakyat lainnya, baik DPRA maupun DPRK, satu pun belum terlihat batang hidungnya. Hanya satu wakil rakyat yang benar-benar merakyat—sudah memberi bantuan, mau memikul air pula ke dapur umum,” tuturnya.
Di tengah banyaknya stigma miring terhadap para wakil rakyat, kehadiran Asrijal Syahputra di lokasi banjir seakan menjadi embun segar.
Sosoknya mengingatkan, bahwa politik sejatinya adalah urusan kemanusiaan, dan jabatan adalah amanah, untuk paling pertama hadir saat masyarakat berada di titik paling sulit.
Banjir boleh saja merendam rumah dan jalanan. Tapi bagi Jal Beco, bencana justru menjadi tempat ia menunjukkan bahwa seorang wakil rakyat tak hanya bekerja di ruang ber-AC, melainkan di tengah lumpur, di antara warga yang menderita, dan pada saat rakyat paling membutuhkan kehadiran tangan dan hatinya. (Herry)




















