GAYO LUES | InfoAcehNews.net — Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Aceh, menargetkan pengembangan lahan perkebunan kopi hingga mencapai 20 ribu hektare dalam dua tahun ke depan. Target tersebut menjadi salah satu langkah pemerintah daerah, untuk mendorong peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat sektor ekonomi berbasis komoditas unggulan daerah.
Bupati Gayo Lues, Suhaidi, mengatakan, untuk tahun 2026 pemerintah daerah menargetkan pengembangan sekitar 4.000 hektare lahan kopi. Sementara pada tahun 2027 mendatang, target tersebut akan ditingkatkan secara signifikan hingga mencapai 15 ribu hektare.
“Ditahun 2027 mendatang, kami targetkan sekitar 15 ribu hektare,” ujar Suhaidi dalam keterangannya, Jumat (28/8/2026), usai menerima penghargaan Pemimpin Daerah Award 2026, yang tayang di layar kaca iNews TV.
Menurut Suhaidi, saat ini pemerintah daerah tengah melakukan pendataan potensi lahan bersama Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), khususnya untuk skema perhutanan sosial dan hutan kemasyarakatan.
Berdasarkan laporan terakhir yang diterima pemerintah daerah, terdapat sekitar 11.500 hektare data lahan yang telah teridentifikasi di wilayah KPH.
Suhaidi menyebut, data tersebut akan terus disinkronkan dan dilengkapi, agar pengembangan perkebunan kopi dapat dilakukan secara terukur.
“Ini sedang kita data bersama KPH, untuk HKM dan PS. Laporan terakhir sudah ada data sekitar 11.500 hektare. Nanti kita sisipkan lagi,l dengan Areal Penggunaan Lain (APL), ” katanya.
Lebih jauh, Bupati Suhaidi mengungkapkan, target jangka pendek pemerintahannya adalah, merealisasikan pengembangan kopi hingga 20 ribu hektare dalam dua tahun. Ia optimistis komoditas kopi dapat menjadi salah satu penggerak utama perekonomian masyarakat Gayo Lues.
Dalam perhitungannya, setiap satu hektare lahan ditargetkan mampu menghasilkan sekitar satu ton kopi per tahun. Dengan asumsi harga green bean mencapai sekitar Rp150 juta per ton per tahun, maka jika produksi mencapai 20 ribu ton, potensi perputaran ekonomi diperkirakan mencapai sekitar Rp3 triliun per tahun.
“Mimpi kita 20.000 hektare dalam dua tahun ini. Estimasi satu hektare satu ton. Satu ton green bean Rp150 juta pertahun. Rp150 juta dikali 20 ribu ton, total perputaran uang Rp3 triliun per tahun,” ungkap Suhaidi.
Ia menegaskan, pengembangan kopi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi, tetapi juga diharapkan mampu menciptakan dampak ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat, mulai dari petani, pengolah hingga pelaku usaha yang bergerak dalam rantai komoditas kopi.
Suhaidi juga menyebut, pengembangan ekonomi Gayo Lues tidak hanya bertumpu pada kopi. Berbagai hasil bumi lainnya akan terus didorong, agar menjadi sumber pendapatan masyarakat, seperti Sere Wangi, Nilam, dan lainnya.
“Komoditas kopi ditambah hasil bumi lainnya, insyaAllah masyarakat Gayo Lues sejahtera,” ujarnya.
Bupati Suhaidi menegaskan, target besar tersebut harus diwujudkan dengan kerja nyata, dan kolaborasi seluruh pihak.
“InsyaAllah program ini berhasil, dan wajib berhasil,” tekad Suhaidi.
Pemerintah Kabupaten Gayo Lues kini dihadapkan pada tantangan untuk memastikan target perluasan lahan, pendataan kawasan, produktivitas tanaman, kualitas hasil panen hingga akses pasar dapat berjalan beriringan.
Jika target tersebut terealisasi, sektor kopi diharapkan tidak hanya menjadi komoditas unggulan, tetapi juga menjadi salah satu motor utama pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Gayo Lues. (Dosaino)

















