GAYO LUES, InfoAcehNews.net | Di sebuah Kabupaten yang dikenal dengan keindahan alamnya dan aroma khas kopi yang menembus pagi, sebuah harapan besar sedang tumbuh. Harapan itu datang dari seorang perempuan inspiratif, Nurhayati, Ketua Yayasan Nurhayati Sahali, lembaga pendidikan yang menaungi anak-anak Gayo Lues dari taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas.
Bagi Nurhayati, pendidikan bukan sekadar ruang kelas dan papan tulis, melainkan wadah membentuk masa depan, terutama bagi generasi muda di tanah seribu bukit ini. Karena itu, ia menyambut dengan penuh semangat setiap langkah BNN Kabupaten Gayo Lues, yang selama ini konsisten memberikan edukasi bahaya narkoba di lembaga-lembaga pendidikan di bawah yayasannya.
“Setiap tahun BNNK datang, mereka bukan hanya memberi sosialisasi, tapi juga harapan. Kami ingin anak-anak tumbuh dengan pengetahuan, bukan ketakutan. Mereka harus tahu, bahwa masa depan Gayo Lues bukan pada ganja, tapi pada karya,” tutur Nurhayati dengan nada tenang namun penuh keyakinan.
Bagi masyarakat Gayo Lues, terutama di Kecamatan Pining, peralihan dari tanaman ganja ke tanaman legal, bukan hal mudah. Daerah itu dikenal luas sebagai salah satu penghasil ganja terbaik di Indonesia. Namun di balik stigma tersebut, tersimpan kerinduan untuk berubah dan keluar dari ketergantungan ekonomi yang kelam. Program GDAD (Grand Desain Alternative Development) yang dijalankan oleh BNNK, hadir sebagai cahaya baru. Melalui pendekatan ekonomi berbasis masyarakat, GDAD menawarkan kopi sebagai alternatif yang lebih menjanjikan dan berkelanjutan.
Nurhayati memuji langkah ini sebagai langkah strategis yang menyentuh akar persoalan. “Pilihan budidaya kopi sangat tepat. Sejak zaman Belanda, kopi sudah menjadi tanaman rakyat, tapi belum pernah dikelola secara besar-besaran. Kini saatnya kopi menjadi tumpuan baru,” ujarnya.
Dari sanalah lahir sebuah gagasan besar. Sekolah Kopi. Sebuah sekolah yang tidak hanya mengajarkan teori, tapi juga membuka jalan, agar para pemuda Gayo Lues bisa menjadi pelaku utama dalam rantai produksi kopi, mulai dari perencanaan tanam, pengolahan pasca panen, hingga hilirisasi produk yang bernilai tinggi.
“Bayangkan anak-anak kita belajar langsung tentang kopi, bagaimana merawatnya, memprosesnya, hingga memasarkan produk ke dunia. Sekolah ini akan menjadi pusat inovasi, bukan sekadar tempat belajar,” kata Nurhayati penuh semangat.
Ia percaya, jika Sekolah Kopi terwujud, kopi Gayo Lues bukan hanya harum di negeri sendiri, tapi juga menembus pasar global. Lebih dari itu, sekolah ini akan membuka lapangan kerja, menumbuhkan industri kecil, dan menghidupkan ekonomi kreatif di daerah.
Nurhayati meyakini, kolaborasi antara lembaganya dengan BNN Kabupaten Gayo Lues bukan hanya soal memberantas narkoba, tapi juga membangun peradaban baru berbasis pendidikan dan ekonomi.
“Melalui GDAD dan Sekolah Kopi, kami yakin bisa ikut mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional 8 persen, sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Kami ingin Gayo Lues ikut menjadi bagian dari kebangkitan ekonomi Indonesia,” tegasnya.
Di ujung percakapannya, Nurhayati menyampaikan satu harapan yang lahir dari hati, “Kami menunggu kedatangan Bapak Presiden Prabowo untuk meresmikan Sekolah Kopi di Gayo Lues. Insya Allah, ini bukan hanya mimpi kami, tapi mimpi seluruh masyarakat Gayo Lues,” pungkasnya.
Gayo Lues kini tidak lagi sekadar dikenal karena gunung dan hijaunya lembah. Dari tanah ini, secangkir semangat baru tengah diseduh aroma perubahan, harapan, dan perjuangan menuju masa depan yang bersih dan sejahtera. (Dosaino)




















