GAYO LUES | InfoAcehNews.net — Ia tidak membawa pulang orangutan itu. Tidak pula memasukkannya ke dalam kandang di halaman rumah. Namun, dari kejauhan, seorang gadis berdarah Gayo memilih menjadi bagian dari kehidupan seekor orangutan, yang tengah berjuang untuk kembali ke alam bebas.
Namanya Qurrota Aini, S.I.Kom. Perempuan kelahiran Bekasi, dengan ayah berdarah Gayo dan ibu Betawi itu, memilih ikut dalam program Adopt an Orangutan, atau menjadi orang tua asuh bagi seekor orangutan.
Pilihan tersebut mungkin terlihat sederhana. Tetapi bagi seekor satwa liar yang kehidupannya bergantung pada kepedulian manusia, dukungan seperti itu dapat menjadi bagian penting dari perjalanan panjang menuju kehidupan yang lebih baik.
Qurrota merupakan alumni SMKN 2 Blangkejeren Kabupaten Gayo Lues, Aceh, lulusan tahun 2018 dari jurusan Administrasi. Ia kemudian melanjutkan pendidikan dan menjadi alumni Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).
Di tengah kehidupan generasi muda yang semakin dekat dengan dunia digital, media sosial dan berbagai kesibukan, Qurrota memilih menyalurkan kepeduliannya kepada makhluk, yang bahkan tidak mungkin mengucapkan terima kasih kepadanya.
Ia memilih membantu tanpa berharap orangutan tersebut menjadi miliknya. Sebab, dalam program konservasi, kata “adopsi” memiliki makna yang berbeda.
Menjadi orang tua asuh orangutan, bukan berarti membawa satwa tersebut pulang. Orangutan tetap berada di pusat rehabilitasi atau kawasan konservasi, dan mendapatkan perawatan dari tenaga profesional.
Dukungan dari orang tua asuh digunakan untuk membantu memenuhi kebutuhan satwa, seperti makanan, pemeriksaan kesehatan, perawatan, fasilitas rehabilitasi hingga mendukung proses pelepasliaran, ketika orangutan telah dinyatakan siap kembali ke habitatnya.
Sebagai orang tua asuh, seseorang juga dapat memperoleh sertifikat adopsi, foto, nama dan kisah orangutan yang diasuh, serta informasi mengenai perkembangan satwa tersebut.
Dengan kata lain, yang “dimiliki” bukanlah orangutannya. Yang dimiliki adalah sebuah kesempatan untuk ikut menyelamatkan kehidupan.
Di situlah kisah Qurrota menjadi menarik. Ia menunjukkan, bahwa kepedulian terhadap satwa tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari keputusan sederhana, bersedia berbagi untuk kehidupan makhluk lain.
Orangutan sendiri bukan sekadar satwa yang menarik perhatian, karena kecerdasannya atau wajahnya yang mirip manusia. Ia merupakan bagian penting dari ekosistem hutan Indonesia.
Namun keberadaannya terus menghadapi berbagai ancaman, mulai dari kerusakan dan kehilangan habitat, perburuan, perdagangan ilegal hingga konflik dengan manusia.
Ketika seekor orangutan menjadi korban dari berbagai ancaman tersebut, proses penyelamatannya tidak berhenti pada evakuasi. Ada perjalanan panjang yang harus dilalui. Mulai dari pemeriksaan kesehatan, rehabilitasi, pembelajaran kembali perilaku alami, hingga persiapan sebelum dilepasliarkan.
Semua itu membutuhkan waktu, tenaga dan biaya. Karena itulah keterlibatan masyarakat melalui program konservasi menjadi penting.
Apa yang dilakukan Qurrota Aini, menjadi sebuah pesan bahwa generasi muda, juga dapat mengambil peran dalam menjaga satwa yang dilindungi.
Tidak harus memiliki hutan. Tidak harus bekerja sebagai penjaga satwa. Tidak pula harus memelihara orangutan. Cukup dengan membantu mereka, mendapatkan kesempatan untuk kembali hidup sebagaimana mestinya.
Bagi Qurrota, kepedulian tersebut juga memiliki makna spiritual. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan “bahwa pada setiap makhluk hidup yang memiliki hati yang basah terdapat pahala”.
Sebuah pesan yang sederhana, tetapi begitu dalam. Bahwa kebaikan tidak selalu harus diberikan kepada manusia. Kebaikan juga dapat diberikan kepada makhluk hidup lainnya. Dan mungkin, seekor orangutan yang hari ini hidup dalam perawatan manusia, suatu saat nanti akan kembali menapaki hutan. Bergelantungan dari satu dahan ke dahan lainnya. Mencari makanan di antara pepohonan. Membangun kehidupan baru di habitatnya. Tanpa pernah mengetahui, siapa saja manusia yang pernah membantunya bertahan hidup.
Namun bagi orang-orang seperti Qurrota Aini, mungkin itu memang bukan persoalannya. Sebab kebaikan yang tulus tidak selalu membutuhkan balasan. Yang terpenting adalah, kehidupan tetap berlangsung. Hutan tetap memiliki penghuninya. Dan generasi berikutnya, masih dapat melihat orangutan bukan hanya melalui gambar atau video, tetapi sebagai satwa liar yang benar-benar hidup di hutan Indonesia.
Kisah Qurrota Aini menjadi pengingat, bahwa menyelamatkan alam tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kadang, ia dimulai dari satu hati yang tergerak untuk peduli. Dari satu keputusan untuk berbagi. Dan dari satu keyakinan, bahwa setiap kehidupan sekecil apa pun, tetap memiliki nilai. Karena ketika seseorang memilih menyelamatkan satu kehidupan, sesungguhnya ia sedang ikut menjaga kehidupan yang jauh lebih besar, hutan, alam dan masa depan bumi. (Dosaino)


















